![]() |
| Ilustrasi bunga mawar yang terkena bercak merah kental (Pixabay/Couleur) |
Perlahan, Sang Gadis melewati ruang keluarga menuju kamar ibunya. Pintu kamar berwarna putih itu tertutup setengah, membuat tirai tipis di dalam kamar berkibar pelan ke luar.
Cahaya matahari sore merambat masuk, memperlihatkan siluet benda panjang tergelantung di tengah ruangan yang membuat pikiran Sang Gadis kemana-mana.
Membuka sepenuhnya pintu kamar, tubuh Sang Gadis seketika terpaku melihat langit-langit kamar di tengah ruangan. Kakinya terasa lemas, pandangannya mulai kabur oleh air mata.
Langkahnya mendekat, berharap apa yang dilihatnya hanya bunga tidur di sore hari. Namun, semakin dekat dengan objek di tengah ruangan, kenyataan semakin menghujam hatinya.
Hanya satu kata yang terus berulang di dalam pikirannya, “Kenapa?”.
Sayangnya, jawaban yang diharapkannya tak kunjung datang hingga tubuh ringkih yang terayun pelan di tengah ruangan itu menyatu dengan bumi.
*******
Ruang 3 x 4 yang biasanya tertata rapi kini berubah 180 derajat sesaat setelah Nella melewati pintu masuk rumah Lily. Di atas meja, dua buah leptop terbuka dengan tampilan layar yang penuh dengan catatan.
Buku-buku dan kertas hasil penelitian berserakan di sekelilingnya. Bahkan, gelas minum dan beberapa camilan yang seharusnya ada di atas meja, diletakkan begitu saja di atas sofa.
Nella terlihat serius, jari-jarinya bergerak lincah memberikan tekanan lembut pada keyboard di leptop. Sesekali matanya akan melirik ke samping kiri, di mana kertas penuh coretan huruf dan angka diletakkan.
Di depannya, Lily sedang asyik membandingkan setiap hasil penelitian yang mereka lakukan. Mulutnya bergerak-gerak mengikuti alunan musik yang mengudara di ruangan bercat biru itu.
"Oh ya, di perjalanan tadi aku ketemu anak kelas sebelah. Dia nitip salam buat kamu. Tapi aku lupa namanya." Suara Nella tiba-tiba terdengar, memecahkan fokus Lily dari laporan di tangannya.
Ia menoleh, mengerutkan dahi sambil memperhatikan Nella yang masih menatap layar penuh tulisan di depannya. "Siapa?"
"Kan aku bilang lupa namanya. Dia cowok, tinggi, rambutnya panjang, pake kacamata. Kalo gak salah, dia juga pernah ikut kelas kita di semester tiga," jelas Nella mulai memfokuskan diri pada Lily yang mulai menyelam memorinya untuk mengingat orang yang dimaksud Nella.
"Yang pernah debat sama Bu Ana bukan?" tanya Lily memastikan. Nella hanya mengangkat bahu sebagai respon ketidaktahuannya.
Lily masih mencoba mengingat dengan keras, berusaha mencari jawaban agar bisa berterima kasih pada orang yang memberinya salam. Tapi sayang seribu sayang, memori di kepala Lily tidak sebesar memori hardisk yang dimilikinya. Ia akan merasa kesusahan untuk mengingat sesuatu yang tidak penting baginya.
Di seberang, Nella memperhatikan dengan lekat wajah Lily. Ada banyak pertanyaan muncul di kepalanya saat memandang wajah Lily.
Di bawah alis yang melengkung halus terbingkai dengan apik manik matanya yang berwarna abu-abu. Hidungnya lurus dan sedikit mancung. Pipinya yang selalu berwarna merah muda itu berbentuk bulat. Bibirnya yang tipis dan berwarna merah tetap terlihat cantik meskipun sang pemilik sedang mamanyunkan bibir karena cemberut.
Nella tidak mengerti pemikiran orang-orang. Di bagian mana dari wajah cantik Lily yang serupa dengan wajah biasa miliknya?
Merasa diperhatikan, Lily menoleh ke arah Nella. "Kenapa? Kok, natepnya gitu banget?" tanya Lily sambari memeluk dirinya sendiri.
"Memang kita semirip itu, ya?" ucap Nella.
Awalnya Lily bingung dengan pertanyaan Nella. Beberapa detik kemudian, ia pun menyadari maksud pertanyaan Nella. "Entahlah. Aku merasa kita gak mirip banget, kok," jawab Lily.
"Tapi, kenapa orang-orang sering salah manggil kita? Gak satu dua kali aku dipanggil ‘Lily’, loh,” kata Nella masih tetap mempertahankan pertanyaannya yang belum terjawab.
Lily kemudian bangkit beridiri, berjalan menuju sebuah ruangan yang Nella duga adalah kamar miliknya. Tak lama kemudian, Lily kembali dengan memegang dua buah cermin – salah satunya akan diberikan kepada Nella – dan duduk di sisi kanan gadis yang mentapnya bingung.
“Aku paham kenapa orang-orang selalu salah manggil nama kita,” ucap Lily sembari meletakkan cermin di depannya dan di depan Nella. “Bandingin baik-baik, deh.”
Nella menuruti perkataan Lily. Setelah beberapa menit bolak-balik menatap dua cermin di depannya, Nella menyadari sesuatu. Bentuk wajah Nella dan Lily memang sama, bahkan bentuk hidung, mulut, dan juga matanya.
Yang membedakan keduanya adalah bentuk alis dan warna manik mata keduanya. Alis Nella terlihat lebih tebal dan tegas daripada Lily. Begitu juga dengan warna matanya yang terlihat lebih gelap daripada langit malam.
“Kalo kata Bunda, aku lebih mirip Ayah dari segi penampilan. Singkatnya sih, aku Ayah versi cewek waktu masih muda.” Tiba-tiba Lily mulai menceritakan kisah keluarga kecilnya kepada Nella. Di sampingnya, Nella mendengar dengan penuh perhatian, sesekali bertanya dan menanggapi cerita Lily.
“Eh, aku kebelet, nih. Boleh numpang toiletmu, gak?” interupsi Nella di tengah-tengah cerita Lily. Menanggapi ucapan Nella, Lily mengangguk dan mengantarkan Nella masuk rumah lebih dalam menuju ke toilet.
Sembari menunggu, Lily pergi ke dapur untuk mengisi ulang minum dan makanan ringan yang sudah habis di makan mereka saat sesi bercerita. Sekembalinya Lily dari ruang tamu, ia melihat Nella berdiri di depan pigura foto keluarganya.
“Kamu foto sama siapa aja?” tanya Nella sesaat setelah menyadari keberadaan Lily di sampingnya. Lily dengan semangat menjawab pertanyaan Nella, “Itu Ayah dan Bundaku. Gimana? Aku lebih mirip sama Ayah, kan?”
Lily hanya mengangguk menanggapi, memandang lamat keluarga bahagia yang terbingkai dalam sebuah foto, “Bener kata kamu. Aku juga pernah denger kalau anak perempuan bakal lebih mirip sama ayahnya, sedangkan anak laki-laki bakal lebih mirip sama ibunya. Kukira itu cuma mitos, ternyata aku menemukan contohnya langsung."
"Kalo kamu lebih mirip siapa, Nel?" tanya Lily. Nella diam, bingung ingin menjawab apa. Dia sendiri juga tidak tahu lebih mirip siapa dirinya ini.
"Kayaknya kita harus selesein dulu penelitian kita, Ly. Aku takut kalau pulangnya kemaleman. Sekarang rawan begal kalo malem," ucap Nella. Lily terkejut mendapati jam digital miliknya menunjukkan pukul 17.27.
"Oh, ya ampun. Maaf, Nella. Waktu kita terbuang gara-gara aku cerita banyak tentang keluarga aku. Selanjutnya giliran kamu yang cerita, ya! Untuk sekarang, yuk, kita fokus ngerjain penelitian kita lagi!" ajak Lily menarik tangan Nella penuh semangat kembali ke ruang tamu.
*******
Lily masuk ke dalam rumahnya dengan wajah ceria dan bahagia. Ia sudah tak sabar ingin membagikan kebahagiaan ini kepada kedua orang tuanya. Mereka pasti merasa bangga bahwa anak semata wayangnya yang cantik dan manis telah diterima beasiswa S2 di perguruan tinggi luar negeri.
"AYAH, BUNDA! LILY PUNYA KABAR BAIK, LOH!" teriak Lily sembari masuk ke dalam kamar kedua orang tuanya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Bukannya disambut dengan wajah bahagia, Lily disuguhkan bau anyir dengan badan dua orang dewasa yang tergantung di langit-langit ruangan. Kakinya terasa lemas, detak jantungnya meningkat berkali-kali lipat. Lily berharap ini hanyalah sebuah bunga tidur belaka.
Semakin dekat, pemandangan mengerikan itu semakin jelas. Cairan merah kental terus menetes memberikan bercak abstrak ke lantai kamar.
Di tengah cairan kental itu, ada setangkai bunga mawar putih - yang telah bercampur dengan warna merah gelap - dan pita hitam bercorak burung kedasih.
*********
Satu Minggu setelah kejadian mengerikan yang dialami Lily, gadis cantik yang dikenal periang itu kerap kali mendapatkan mimpi buruk. Ia merasa takut jika berada di rumahnya sendirian.
Nella yang merasa simpati atas keadaan yang menimpa Lily pun menawarkan diri agar Lily menginap di rumah Nella. Di sinilah Lily sekarang, bersama Nella di kamar sederhana milik temannya itu.
"Ngomong-ngomong, kamu di rumah sendiri, Nel? Orang tuamu di mana?" tanya Lily menyadari hanya ada mereka berdua di rumah ini. Lily ingin menyapa kedua orang tua Nella karena ini pertama kali dia datang ke rumah temannya itu.
"Iya. Mereka udah gada, Ly. Kita sama," jawab Nella.
"Oh, maaf. Aku gatau kalau orang tua kamu juga udah gada," kata Lily dengan perasaan sesal. Sejenak, ada keheningan di antara mereka berdua.
Lily diam-diam memperhatikan benda-benda yang ada di dalam kamar Nella. Ketika netra abunya melihat ke arah jendela kamar Nella, seketika tubuhnya menegang.
Di sana, terlihat sekuntum mawar putih dalam vas bunga berwarna merah yang diikat pita hitam dengan corak burung kedasih. Jantungnya berdetak lebih kencang dari sebelumnya.
Perlahan tapi pasti, kepala Lily menoleh ke tempat Nella duduk sekarang. Menyadari perubahan raut wajah Lily, Nella tersenyum penuh arti, "Kebetulan banget. Mau denger cerita tentang keluargaku, Lily?".
Bersambung....
.jpg)
Komentar
Posting Komentar